Selasa, 06 November 2012

MUNTAH DAN GUMOH


BAB II
PEMBAHASAN

2.1  MUNTAH  DAN GUMOH
Muntah dan gumoh sering kali terjadi hampir setiap pada bayi. Gumoh berbeda dengan muntah. Keduanya merupakan hal biasa (normal) dan tidak menandakan suatu hal yang serius yang terjadi pada bayi Anda. Hanya sebagian kecil kasus muntah bayi (muntah patologis) yang menjadi indikasi gangguan serius .
Muntah adalah keluarnya isi lambung atau esophagus melalui mulut yang disebabkan oleh kerja motorik dari saluran pencernaan. Muntahan dapat berupa cairan atau makanan atau cairan lambung saja. Muntah pada anak sering menimbulkan kecemasan bagi orang tua. Hal tersebut sangat wajar, karena muntah yang terus menerus dapat menyebabkan dehidrasi (kekurangan cairan) yang merupakan salah satu kegawatdaruratan pada anak.
Samakah muntah dan gumoh pada bayi?
Baik muntah dan gumoh pada bayi merupakan pengeluaran isi lambung. Bedanya gumoh terjadi seperti illustrasi air yang mengalir ke bawah , bisa sedikit (seperti meludah) atau cukup banyak. Bersifat pasif dan spontan. Sedangkan muntah lebih cenderung dalam jumlah banyak dan dengan kekuatan dan atau tanpa kontraksi lambung.

Sekitar 70 % bayi berumur di bawah 4 bulan mengalami gumoh minimal 1 kali setiap harinya, dan kejadian tersebut menurun sesuai dengan bertambahnya usia hingga 8-10 persen pada umur 9-12 bulan dan 5 persen pada umur 18 bulan. Meskipun normal, Gumoh yang berlebihan dapat menyebabkan berbagai komplikasi yang akan mengganggu pertumbuhan bayi


2.1.1        MUNTAH
Muntah atau emesis adalah keadaan dimana dikeluarkannya isi lambung secara ekspulsif atau keluarnya kembali sebagian besar atau seluruh isi lambung yang terjadi setelah agak lama makanan masuk kedalam lambung. Usaha untuk mengeluarkan isi lambung akan terlihat sebagai kontraksi otot perut.
Muntah pada bayi merupakan gejala yang sering kali dijumpai dan dapat terjadi pada berbagai gangguan. Dalam beberapa jam pertama setelah lahir, bayi mungkin muntah lendir, bahkan kadang-kadang disertai sedikit darah.
Muntah ini tidak jarang menetap setelah pemberian makanan pertama, suatu keadaan yang mungkin disebabkan adanya iritasi mukosa lambung oleh sejumlah benda yang tertelan selama proses kelahiran, jika muntahnya menetap pembilasan lambung dengan larutan garam fisiologis akan dapat menolongnya.
Refluks gastroesofagus adalah kembalinya isi lambung kedalam esofagus tanpa terlihat adanya usaha dari anak
Regurgitasi adalah bila bahan dari lambung tersebut dikeluarkan melalui mulut
Secara klinis kadang-kadang sukar dibedakan antara muntah, refluks dan regurgitasi. Muntah sering dianggap sebagai suatu mekanisme pertahanan tubuh untuk mengeluarkan racun yang tertelan.
Muntah harus dibedakan dengan beberapa kejadian:
1)      Posetting; yaitu pengeluaran sedikit isi lambung sehabis makan, biasanya meleleh keluar dari mulut. Hal ini tidak berbahaya dan akan menghilang dengan sendirinya.
2)      Regurgitasi; Regurgitasi disebabkan oleh ketidakmampuan sphinter cardioesophageal atau memanjangnya waktu pengosongan lambung. sebagian besar kejadian regurgitasi akan menghilang sendiri dengan bertambahnya umur bayi. beberapa dapat mengganggu pertumbuhan dan menimbulkan infeksi saluran nafas berulang.

2.1.1.1                        Penyebab muntah
Pada neonatus
Ø  Organik
·         Gastrointestinal
Obstruksi : atresia esofagus
Non obstruksi : perforasi lambung
·         Ekstra gastrointestinal
Insufisiensi ginjal, obstruksi urethra
·         Susunan syaraf pusat
Peningkatan tekanan intra cranial (TIK)

Ø  Non organic
Teknik pemberian minum yang salah, makanan/minuman yang tidak cocok atau terlalu banyak, keracunan, obat-obat tertentu, kandidasis oral.
Pada anak
Ø  Organik
·         Gastrointestinal
Obstruksi : stenosis pylorus
Non obstruksi : refluk esofagal, infeksi/peritonitis
·         Luar gastrointestinal
Infeksi (OMA, pertusis, tonsilofaringitis)
uremia
Ø  Non organik
·         Sama dengan neonatus
·         Mabuk perjalanan
·         Keracunan makanan (1-8 jam sesudah makan)
·         Food borne disease (salmonellosis) lebih lama dari keracunan makanan
2.1.1.2                        Perlu anamnesa yang teliti :
  • Pola pemberian makan
  • Berat badan lahir
  • Jumlah yang dimuntahkan, frekuensi
  • Disertai diare, batuk atau panas
  • Terjadi sebelum/sesudah makan
  • Menyemprot/proyektil atau tidak
2.1.1.3                        Sifat muntah
  • Keluar cairan terus menerus maka kemungkinan obstruksi esophagus
  • Muntah proyektil kemungkinan stenosis pylorus (pelepasan lambung ke duodenum)
  • Muntah hijau (empedu) kemungkinan obstruksi otot halus, umumnya timbul pada beberapa hari pertama, sering menetap, biasanya tidak proyektil.
  • Muntah hijau kekuningan kemungkinan obsruksi dibawah muara saluran empedu
  • Muntah segera lahir dan menetap kemungkinan tekanan intrakranial tinggi atau obstruksi usus

2.1.1.4                        Diagnosis
Diagnosis dapat ditegakkan secara radiologis yaitu apabila didapatkan gambaran suatu keadaan kelainan kongenital bawaan seperti obstruksi usus halus, atresia esophagus dan lain-lain. Selain dengan pemeriksaan radiologis, juga dapat ditegakkan dengan pemeriksaan uji coba memasukan kateter kedalam lambung. Diagnosis harus dapat segera dibuat sebelum anak tersedak sewaktu makan dengan kemungkinan terjadinya aspirasi pneumonia.
Muntah (kelainan bedah) adalah gangguan passage gastrointestinal dengan tanda-tanda muntah, perut membuncit, kegagalan evakuasi mekonium (pada BBL).
Gambaran muntah yang perlu dicurigai sebagai kelainan bedah
  • Muntah hijau (gangguan pada empedu)
  • Muntah proyektil (menyemprot)
  • Muntah persisten
  • Muntah bercampur darah
  • Muntah disertai penurunan berat badan
  •  
2.1.1.5                        Komplikasi
  • Kehilangan cairan tubuh/elektrolit sehingga dapat menyebabkan dehidrasi
  • Karena sering muntah dan tidak mau makan/minum dapat menyebabkan ketosis
  • Ketosis akan menyebabkan asidosis yang akhirnya bisa menjadi renjatan (syok)
  • Bila muntah sering dan hebat akan terjadi ketegangan otot perut, perdarahan, konjungtiva, ruptur, esophagus, infeksi mediastinum, aspirasi muntah jahitan bisa lepas pada penderita pasca operasi dan timbul perdarahan.



2.1.1.6                        Penatalaksanaan
  • Utamakan penyebabnya
  • Berikan suasana tenang dan nyaman
  • Perlakukan bayi/anak dengan baik dan hati-hati
  • Kaji sifat muntah
  • Simptomatis dapat diberi anti emetik (atas kolaborasi dan instruksi dokter)
  • Kolaborasi untuk pengobatan suportif dan obat anti muntah (pada anak tidak rutin digunakan) :
    • Metoklopramid
    • Domperidon (0,2-0,4 mg/Kg/hari per oral)
    • Anti histamin
    • Prometazin
    • Kolinergik
    • Klorpromazin
    • 5-HT-reseptor antagonis
    • Bila ada kelainan yang sangat penting segera lapor/rujuk ke rumah sakit/ yang berwenang
2.1.1.7                        Mekanisme Muntah
Muntah terjadi melalui mekanisme yang sangat kompleks. Terjadinya muntah dikontrol oleh pusat muntah yang ada di susunan saraf pusat (otak) kita. Muntah terjadi apabila terdapat  kondisi tertentu yang merangsang pusat muntah. Rangsangan pusat muntah kemudian dilanjutkan ke diafragma (suatu sekat antara dada dan perut) dan otot-otot lambung, yang mengakibatkan penurunan diafragma  dan kontriksi (pengerutan) otot-otot lambung. Hal tersebut selanjutnya mengakibatkan peningkatan tekanan di dalam perut khususnya lambung dan mengakibatkan keluarnya isi lambung sampai ke mulut.
Beberapa kondisi yang dapat merangsang pusat muntah di antaranya berbagai gangguan di saluran pencernaan baik infeksi (termasuk gastroenteritis) dan non infeksi (seperti obstruksi saluran pencernaan), toksin (racun) di saluran pencernaan, gangguan keseimbangan, dan kelainan metabolik.
2.1.2    GUMOH/REGURGITASI
Gumoh adalah keluarnya kembali susu yang telah ditelan ketika atau beberapa saat setelah minum susu botol atau menyusui pada ibu dan jumlahnya hanya sedikit.
Regurgitasi yang tidak berlebihan merupakan keadaan normal terutama pada bayi dibawah usia 6 bulan
Gumoh atau GER (gastro esophageal reflux ) pada bayi baru lahir bisa dikatakan normal, meskipun bisa juga tidak normal. Gumoh disebut normal jika terjadi tidak terlalu sering, berat badan bayi tidak terganggu kenaikannya, dan tidak ada keluhan lain semisal kolik. Jika gumohnya berlebihan sehingga mengganggu kenaikan berat badan bayi, sebaiknya diwaspadai dan dikonsultasikan ke dokter

2.1.2.1                        Penyebab
·         Anak/bayi yang sudah kenyang
·         Posisi anak atau bayi yang salah saat menyusui akibatnya udara masuk kedalam lambung
·         Posisi botol yang tidak pas
·         Terburu-buru atau tergesa-gesa dalam menghisap
·         Akibat kebanyakan makan
·         Kegagalan mengeluarkan udara
2.1.2.2                        Mekanisme Gumoh
Mekanisme gumoh adalah susu yang diminum bayi seharusnya turun dari lambung ke usus. Tapi, pada beberapa bayi, proses pengosongan lambungnya agak lambat, karena kapasitas lambung yang belum maksimal, serta katup atau celah di kerongkongan yang belum kuat. Akibatnya, air susu akan mengalir kembali (reflux ) ke atas. Kalau reflux -nya sangat hebat, bisa menimbulkan komplikasi seperti iritasi kerongkongan, batuk berulang, dan kesulitan makan di kemudian hari.

2.1.2.3                        Diagnosis
Sebagian besar gumoh terjadi akibat kebanyakan makan atau kegagalan mengeluarkan udara yang ditelan. Oleh karena itu, sebaiknya diagnosis ditegakkan sebelum terjadi gumoh. Pengosongan lambung yang lebih sempurna, dalam batas-batas tertentu penumpahan kembali merupakan kejadian yang alamiah, terutama salam 6 bulan pertama. Namun, penumpahan kembali tersebut diturunkan sampai jumlah yang bisa diabaikan dengan pengeluaran udara yang tertelan selama waktu atau sesudah makan.
Dengan menangani bayi secara hati-hati dengan emghindari konflik emosional serta dalam menempatkan bayi pada sisi kanan, letak kepala bayi tidak lebih rendah dari badannya. Oleh karena pengeluaran kembali refleks gastroesofageal lazim ditemukan selama masa 4-6 bulan pertama.

2.1.2.4                        Penatalaksanaan gumoh
·         Kaji penyebab gumoh
·         Gumoh yang tidak berlebihan merupakan keadaan yang normal pada bayi yang umurnya dibawah 6 bulan, dengan memperbaiki teknik menyusui/memberikan susu.
·         Saat memberikan ASI/PASI kepala bayi ditinggikan
·         Botol tegak lurus/miring jangan ada udara yang terisap
·         Bayi/anak yang menyusui pada ibu harus dengan bibir yang mencakup rapat puting susu ibu
·         Sendawakan bayi setelah minum ASI/PASI
·         Bila bayi sudah sendawa bayi dimiringkan kesebelah kanan, karena bagian terluas lambung ada dibawah sehingga makanan turun kedasar lambung ynag luas
·         Bila bayi tidur dengan posisi tengkurap, kepala dimiringkan ke kanan
Gumoh yang patut diwaspadai adalah bila bayi gumoh setiap kali habis minum susu. Takutnya ada kelainan yang disebut GERD (gastro esophageal reflux disease ). Gumoh berlebihan akan membuat berat badan bayi tidak naik, komplikasi batuk berulang, serta kesulitan makan di kemudian hari karena kerongkongan teriritasi. GERD harus diberi obat untuk mempercepat pengosongan lambung.
















GUMOH
 

MUNTAH



BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Muntah dan gumoh sering kali terjadi hampir setiap pada bayi. Gumoh berbeda dengan muntah. Keduanya merupakan hal biasa (normal) dan tidak menandakan suatu hal yang serius yang terjadi pada bayi Anda. Hanya sebagian kecil kasus muntah bayi (muntah patologis) yang menjadi indikasi gangguan serius .
Gumoh yang patut diwaspadai adalah bila bayi gumoh setiap kali habis minum susu. Takutnya ada kelainan yang disebut GERD (gastro esophageal reflux disease ). Gumoh berlebihan akan membuat berat badan bayi tidak naik, komplikasi batuk berulang, serta kesulitan makan di kemudian hari karena kerongkongan teriritasi. GERD harus diberi obat untuk mempercepat pengosongan lambung.















DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar