Rabu, 03 Oktober 2012

Respon Orang Tua Terhadap Bayi Baru Lahir (BBL)





1.      Pengertian Bounding Attachment
Pengertian dari Bounding attachment/keterikatan awal/ikatan batin adalah suatu proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai, memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.
Klause dan Kennel (1983): interaksi orang tua dan bayi secara nyata, baik fisik, emosi, maupun sensori pada beberapa menit dan jam pertama segera bayi setelah lahir.
Nelson (1986), bounding: dimulainya interaksi emosi sensorik fisik antara orang tua dan bayi segera setelah lahir, attachment: ikatan yang terjalin antara individu yang meliputi pencurahan perhatian; yaitu hubungan emosi dan fisik yang akrab.
Saxton dan Pelikan (1996), bounding: adalah suatu langkah untuk mengunkapkan perasaan afeksi (kasih sayang) oleh ibu kepada bayinya segera setelah lahir; attachment: adalah interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu.
2.      Tahap-Tahap Bounding Attachment
a.       Perkenalan (acquaintance), dengan melakukan kontak mata, menyentuh, berbicara, dan mengeksplorasi segera setelah mengenal bayinya.
b.      Bounding (keterikatan)
c.       Attachment, perasaan sayang yang mengikat individu dengan individu lain.
Menurut Klaus, Kenell (1982), bagian penting dari ikatan ialah perkenalan

3.      Elemen-Elemen Bounding Attachment
a.       SentuhanSentuhan, atau indera peraba, dipakai secara ekstensif oleh orang tua dan pengasuh lain sebagai suatu sarana untuk mengenali bayi baru lahir dengan cara mengeksplorasi tubuh bayi dengan ujung jarinya.
b.      Kontak mata – Ketika bayi baru lahir mampu secara fungsional mempertahankan kontak mata, orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Beberapa ibu mengatakan, dengan melakukan kontak mata mereka merasa lebih dekat dengan bayinya (Klaus, Kennell, 1982).
c.       Suara – Saling mendengar dan merespon suara anata orang tua dan bayinya juga penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayinya dengan tegang.
d.      Aroma – Ibu mengetahui bahwa setiap anak memiliki aroma yang unik (Porter, Cernoch, Perry, 1983). Sedangkan bayi belajar dengan cepat untuk membedakan aroma susu ibunya (Stainto, 1985).
e.       Entrainment – Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyang tangan, mengangkat kepala, menendang-nendangkan kaki, seperti sedang berdansa mengikuti nada suara orang tuanya. Entrainment terjadi saat anak mulai berbicara. Irama ini berfungsi memberi umpan balik positif kepada orang tua dan menegakkan suatu pola komunikasi efektif yang positif.
f.       Bioritme – Anak yang belum lahir atau baru lahir dapat dikatakan senada dengan ritme alamiah ibunya. Untuk itu, salah satu tugas bayi baru lahir ialah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif. Hal ini dapat meningkatkan interaksi sosial dan kesempatan bayi untuk belajar.
g.      Kontak dini – Saat ini , tidak ada bukti-bukti alamiah yang menunjukkan bahwa kontak dini setelah lahir merupakan hal yang penting untuk hubungan orang tuaanak.
Namun menurut Klaus, Kennel (1982), ada beberapa keuntungan fisiologis yang dapat diperoleh dari kontak dini :
a.       Kadar oksitosin dan prolaktin meningkat.
b.      Reflek menghisap dilakukan dini.
c.       Pembentukkan kekebalan aktif dimulai.
d.      Mempercepat proses ikatan antara orang tua dan anak (body warmth (kehangatan tubuh); waktu pemberian kasih sayang; stimulasi hormonal).
4.      Prinsip-Prinsip dan Upaya Meningkatkan Bounding Attachment
a.       Dilakukan segera (menit pertama jam pertama).
b.      Sentuhan orang tua pertama kali.
c.       Adanya ikatan yang baik dan sistematis berupa kedekatan orang tua ke anak.
e.       Terlibat pemberian dukungan dalam proses persalinan.
f.       Persiapan PNC sebelumnya.
g.      Adaptasi.
h.      Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak.
i.        Kontak sedini mungkin sehingga dapat membantu dalam memberi kehangatan pada bayi, menurunkan rasa sakit ibu, serta memberi rasa nyaman.
j.        Fasilitas untuk kontak lebih lama.
k.      Penekanan pada hal-hal positif.
l.        Perawat maternitas khusus (bidan).
m.    Libatkan anggota keluarga lainnya/dukungan sosial dari keluarga, teman dan pasangan.
n.      Informasi bertahap mengenai bounding attachment.
5.      Keuntungan Bounding Attachment
a.    Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
b.   Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
6.      Hambatan Bounding Attachment
a.    Kurangnya support sistem.
b.   Ibu dengan resiko (ibu sakit).
c.    Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
d.   Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.







B.     Respon ayah dan Keluarga


Reaksi orangtua dan keluarga terhadap bayi yang baru lahir, berbeda-beda. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, diantaranya reaksi emosi maupun pengalaman. Masalah lain juga dapat berpengaruh, misalnya masalah pada jumlah anak, keadaan ekonomi, dan lain-lain. Respon yang mereka perlihatkan pada bayi baru lahir, ada yang positif dan ada juga yang negatif.
1.      Respon Positif
Respon positif dapat ditunjukkan dengan:
a.       Ayah dan keluarga menyambut kelahiran bayinya dengan bahagia.
b.      Ayah bertambah giat bekerja untuk memenuhi kebutuhan bayi dengan baik.
c.       Ayah dan keluarga melibatkan diri dalam perawatan bayi.
d.      Perasaan sayang terhadap ibu yang telah melahirkan bayi.
2.      Respon Negatif
Respon negatif dapat ditunjukkan dengan:
a.       Kelahiran bayi tidak dinginkan keluarga karena jenis kelamin yang tidak sesuai keinginan.
b.      Kurang berbahagia karena kegagalan KB.
c.       Perhatian ibu pada bayi yang berlebihan yang menyebabkan ayah merasa kurang mendapat perhatian.
d.      Faktor ekonomi mempengaruhi perasaan kurang senang atau kekhawatiran dalam membina keluarga karena kecemasan dalam biaya hidupnya.
e.       Rasa malu baik bagi ibu dan keluarga karena anak lahir cacat.
f.       Anak yang dilahirkan merupakan hasil hubungan zina, sehingga menimbulkan rasa malu dan aib bagi keluarga.


3.      Perilaku Orang Tua
Perilaku orang tua yang dapat mempengaruhi ikatan kasih sayang antara orang tua terhadap bayi baru lahir, terbagi menjadi:
a.       Perilaku Memfasilitasi
1)      Menatap, mencari ciri khas anak.
2)      Kontak mata.
3)      Memberikan perhatian.
4)      Menganggap anak sebagai individu yang unik.
5)      Menganggap anak sebagai anggota keluarga.
6)      Memberikan senyuman.
7)      Berbicara/bernyanyi.
8)      Menunjukkan kebanggaan pada anak.
9)      Mengajak anak pada acara keluarga.
10)  Memahami perilaku anak dan memenuhi kebutuhan anak.
11)  Bereaksi positif terhadap perilaku anak.
b.      Perilaku Penghambat
1)      Menjauh dari anak, tidak memperdulikan kehadirannya, menghindar, menolak untuk menyentuh anak.
2)      Tidak menempatkan anak sebagai anggota keluarga yang lain, tidak memberikan nama pada anak.
3)      Menganggap anak sebagai sesuatu yang tidak disukai.
4)      Tidak menggenggam jarinya.
5)      Terburu-buru dalam menyusui.
6)      Menunjukkan kekecewaan pada anak dan tidak memenuhi kebutuhannya.
4.      Respon Orang Tua
Respon orang tua terhadap bayinya dipengaruhi oleh 2 faktor, yaitu:
a.       Faktor Internal
Yang termasuk faktor internal antara lain genetika, kebudayaan yang mereka praktekkan dan menginternalisasikan dalam diri mereka, moral dan nilai, kehamilan sebelumnya, pengalaman yang terkait, pengidentifikasian yang telah mereka lakukan selama kehamilan ( mengidentifikasikan diri mereka sendiri sebagai orang tua, keinginan menjadi orang tua yang telah diimpikan dan efek pelatihan selama kehamilan).

b.      Faktor Eksternal
Yang termasuk faktor eksternal antara lain perhatian yang diterima selama kehamilan, melahirkan dan postpartum, sikap dan perilaku pengunjung dan apakah bayinya terpisah dari orang tua selama satu jam pertama dan hari-hari dalam kehidupannya.
5.      Sikap Orang Tua

Kondisi yang mempengaruhi sikap
orang tua terhadap bayi meliputi:
a.       Kurang kasih sayang.
b.      Persaingan tugas orang tua.
c.       Pengalaman melahirkan.
d.      Kondisi fisik ibu setelah melahirkan.
e.       Cemas tentang biaya.
f.       Kelainan pada bayi.
g.      Penyesuaian diri bayi pascanatal.
h.      Tangisan bayi.
i.        Kebencian orang tua pada perawatan, privasi dan biaya pengeluaran.
j.        Gelisah tentang kenormalan bayi.
k.      Gelisah tentang kelangsungan hidup bayi.
l.        Penyakit psikologis atau penyalahgunaan alkohol dan kekerasan pada anak.





6.      Respon Antara Ibu dan Bayi
Respon Antara Ibu dan Bayi sejak kontak awal hingga tahap perkembangannya meliputi:
a.       Touch (Sentuhan). Ibu memulai dengan sebuah ujung jarinya untuk memeriksa bagian kepala dan ekstremitas bayinya. Perabaan digunakan sebagai usapan lembut untuk menenangkan bayi.
b.      Eye to Eye Contact (Kontak Mata). Kesadaran untuk membuat kontak mata dilakukan kemudian dengan segera. Kontak mata mempunyai efek yang erat terhadap perkembangan dimulainya hubungan dan rasa percaya sebagai faktor yang penting dalam hubungan manusia pada umumnya.
c.       Odor (Bau Badan). Indera penciuman pada bayi baru lahir sudah berkembang dengan baik dan masih memainkan peran dalam nalurinya untuk mempertahankan hidup. Indera penciuman bayi akan sangat kuat, jika seorang ibu dapat memberikan bayinya Asi pada waktu tertentu.
d.      Bodi Warm (Kehangatan Tubuh). Jika tidak ada komplikasi yang serius, seorang ibu akan dapat langsung meletakkan bayinya di atas perut ibu, baik setelah tahap kedua dari proses melahirkan atau sebelum tali pusat dipotong. Kontak yang segera ini memberi banyak manfaat baik bagi ibu maupun si bayi yaitu terjadinya kontak kulit yang membantu agar si bayi tetap hangat.
e.       Voice (Suara). Respon antara ibu dan bayi berupa suara masing-masing. Orang tua akan menantikan tangisan pertama bayinya. Dari tangisan itu, ibu menjadi tenang karena merasa bayinya baik-baik saja (hidup). Bayi dapat mendengar sejak dalam rahim, jadi tidak mengherankan jika ia dapat mendengarkan suara-suara dan membedakan nada dan kekuatan sejak lahir, meskipun suara-suara itu terhalang selama beberapa hari oleh sairan amniotik dari rahim yang melekat dalam telinga.
f.       Entrainment (Gaya Bahasa). Bayi baru lahir menemukan perubahan struktur pembicaraan dari orang dewasa. Artinya perkembangan bayi dalam bahasa dipengaruhi kultur, jauh sebelum ia menggunakan bahasa dalam berkomunikasi. Dengan demikian terdapat salah satu yang akan lebih banyak dibawanya dalam memulai berbicara (gaya bahasa). Selain itu juga mengisyaratkan umpan balik positif bagi orang tua dan membentuk komunikasi yang efektif.
g.      Biorhythmicity (Irama Kehidupan). Janin dalam rahim dapat dikatakan menyesuaikan diri dengan irama alamiah ibunya seperti halnya denyut jantung. Salah satu tugas bayi setelah lahir adalah menyesuaikan irama dirinya sendiri. Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberikan perawatan penuh kasih sayang secara konsisten dan dengan menggunakan tanda keadaan bahaya bayi untuk mengembangkan respon bayi dan interaksi sosial serta kesempatan untuk belajar.
C.    Sibling Rivally
Kamus kedokteran Dorland (Suherni, 2008): sibling (anglo-saxon sib dan ling bentuk kecil) anak-anak dari orang tua yang sama, seorang saudara laki-laki atu perempuan. Disebut juga sib. Rivally keadaan kompetisi atau antagonisme. Sibling rivally adalah kompetisi antara saudara kandung untuk mendapatkan cinta kasih, afeksi dan perhatian dari satu kedua orang tuanya, atau untuk mendapatkan pengakuan atau suatu yang lebih.
Sibling rivally adalah kecemburuan, persaingan dan pertengkaran antara saudara laki-laki dan saudara perempuan. Hal ini terjadi pada semua orang tua yang mempunyai dua anak atau lebih.
Sibling rivally atau perselisihan yang terjadi pada anak-anak tersebut adalah hal yang biasa bagi anak-anak usia antara 5-11 tahun. Bahkan kurang dari 5 tahun pun sudah sangat mudah terjadi sibling rivally itu. Istilah ahli psikologi hubungan antar anak-anak seusia seperti itu bersifat ambivalent dengan love hate relationship.
2.      Penyebab Sibling Rivally
Banyak faktor yang menyebabkan sibling rivally, antara lain:
a.       Masing-masing anak bersaing untuk menentukan pribadi mereka, sehingga ingin menunjukkan pada saudara mereka.
b.      Anak merasa kurang mendapatkan perhatian, disiplin dan mau mendengarkan dari orang tua mereka.
c.       Anak-anak merasa hubungan dengan orang tua mereka terancam oleh kedatangan anggota keluarga baru/ bayi.
d.      Tahap perkembangan anak baik fisik maupun emosi yang dapat mempengaruhi proses kedewasaan dan perhatian terhadap satu sama lain.
e.       Anak frustasi karena merasa lapar, bosan atau letih sehingga memulai pertengkaran.
f.       Kemungkinan, anak tidak tahu cara untuk mendapatkan perhatian atau memulai permainan dengan saudara mereka.
g.      Dinamika keluarga dalam memainkan peran.
h.      Pemikiran orang tua tentang agresi dan pertengkaran anak yang berlebihan dalam keluarga adalah normal.
i.        Tidak memiliki waktu untuk berbagi, berkumpul bersama dengan anggota keluarga.
j.        Orang tua mengalami stres dalam menjalani kehidupannya.
k.      Anak-anak mengalami stres dalam kehidupannya.
l.        Cara orang tua memperlakukan anak dan menangani konflik yang terjadi pada mereka.
3.      Segi Positif Sibling Rivally
Meskipun sibling rivally mempunyai pengertian yang negatif tetapi ada segi positifnya, antara lain:
a.       Mendorong anak untuk mengatasi perbedaan dengan mengembangkan beberapa keterampilan penting.
b.      Cara cepat untuk berkompromi dan bernegosiasi.
c.       Mengontrol dorongan untuk bertindak agresif.
Oleh karena itu agar segi positif tersebut dapat dicapai, maka orang tua harus menjadi fasilitator.
4.      Mengatasi Sibling Rivally
Beberapa hal yang perlu diperhatikan orang tua untuk mengatasi sibling rivally, sehingga anak dapat bergaul dengan baik, antara lain:
a.       Tidak membandingkan antara anak satu sama lain.
b.      Membiarkan anak menjadi diri pribadi mereka sendiri.
c.       Menyukai bakat dan keberhasilan anak-anak Anda.
d.      Membuat anak-anak mampu bekerja sama daripada bersaing antara satu sama lain.
e.       Memberikan perhatian setiap waktu atau pola lain ketika konflik biasa terjadi.
f.       Mengajarkan anak-anak Anda cara-cara positif untuk mendapatkan perhatian dari satu sama lain.
g.      Bersikap adil sangat penting, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan anak. Sehingga adil bagi anak satu dengan yang lain berbeda.
h.      Merencanakan kegiatan keluarga yang menyenangkan bagi semua orang.
i.        Meyakinkan setiap anak mendapatkan waktu yang cukup dan kebebasan mereka sendiri.
j.        Orang tua tidak perlu langsung campur tangan kecuali saat tanda-tanda akan kekerasan fisik.
k.      Orang tua harus dapat berperan memberikan otoritas kepada anak-anak, bukan untuk anak-anak.
l.        Orang tua dalam memisahkan anak-anak dari konflik tidak menyalahkan satu sama lain.
m.    Jangan memberi tuduhan tertentu tentang negatifnya sifat anak.
n.      Kesabaran dan keuletan serta contoh-contoh yang baik dari perilaku orang tua sehari-hari adalah cara pendidikan anak-anak untuk menghindari sibling rivalry yang paling bagus.
5.      Adaptasi Kakak Sesuai Tahapan Perkembangan
Respon kanak-kanak atas kelahiran seorang bayi laki-laki atau perempuan bergantung kepada umur dan tingkat perkembangan. Biasanya anak-anak kurang sadar akan adanya kehadiran anggota baru, sehingga menimbulkan persaingan dan perasaan takut kehilangan kasih sayang orang tua. Tingkah laku negatif dapat muncul dan merupakan petunjuk derajat stres pada anak-anak ini.
Tingkah laku ini antara lain berupa:
a.       Masalah tidur.
b.      Peningkatan upaya menarik perhatian orang tua maupun anggota keluarga lain.
c.       Kembali ke pola tingkah laku kekanak-kanakan seperti: ngompol dan menghisap jempol.
Batita (Bawah Tiga Tahun)
Pada tahapan perkembangan ini, yang termasuk batita (bawah tiga tahun) ini adalah usia 1-2 tahun.
Cara beradaptasi pada tahap perkembangan ini antara lain:
a.       Merubah pola tidur bersama dengan anak-anak pada beberapa minggu sebelum kelahiran.
b.      Mempersiapkan keluarga dan kawan-kawan anak batitanya dengan menanyakan perasaannya terhadap kehadiran anggota baru.
c.       Mengajarkan pada orang tua untuk menerima perasaan yang ditunjukkan oleh anaknya.
d.      Memperkuat kasih sayang terhadap anaknnya.


Anak yang Lebih Tua
Tahap perkembangan pada anak yang lebih tua, dikategorikan pada umur 3-12 tahun. Pada anak seusia ini jauh lebih sadar akan perubahan-perubahan tubuh ibunya dan mungkin menyadari akan kelahiran bayi. Anak akan memberikan perhatian terhadap perkembangan adiknya. Terdapat pula, kelas-kelas yang mempersiapkan mereka sebagai kakak sehingga dapat mengasuh adiknya.
Respon para remaja juga bergantung kepada tingkat perkembangan mereka. Ada remaja yang merasa senang dengan kehadiran angggota baru, tetapi ada juga yang larut dalam perkembangan mereka sendiri. Adaptasi yang ditunjukkan para remaja yang menghadapi kehadiran anggota baru dalam keluarganya, misalnya:
a.       Berkurangnya ikatan kepada orang tua.
b.      Remaja menghadapi perkembangan seks mereka sendiri.
c.       Ketidakpedulian terhadap kehamilan kecuali bila mengganggu kegiatan mereka sendiri.
d.      Keterlibatan dan ingin membantu dengan persiapan untuk bayi.
6.   Peran Bidan
Peran bidan dalam mengatasi sibling rivally, antara lain:
a.       Membantu menciptakan terjadinya ikatan antara ibu dan bayi dalam jam pertama pasca kelahiran.
b.      Memberikan dorongan pada ibu dan keluarga untuk memberikan respon positif tentang bayinya, baik melalui sikap maupun ucapan dan tindakan.
D.    Rawat Gabung
1.      Pengertian Rawat Gabung
Yang dimaksud dengan rawat gabung adalah suatu cara perawatan dimana ibu dan bayi yang baru dilahirkan tidak dipisahkan, melainkan ditempatkan dalam sebuah ruangan kamar atau tempat bersama-sama selama 24 jam penuh dalam seharinya. Sehingga setiap kali bayi memerlukan, ibunya dapat segera memberikan perhatian.
Suatu cara perawatan bayi baru lahir yang ditempatkan satu ruangan disamping ibunya sehingga setiap kali bayi memerlukan, ibunya daapt segera memberikan perhatian
Suatu cara perawatan bayi baru lahir dimana bayi ditempatkan dalam satu ruangan bersama ibunya, sehingga mudah dijangkau
Suatu hal yang sangat wajar dimana naluri alamiah seorang ibu ingin selalu dekat dengan bayi yang baru dilahirkannya. Apalagi bila kita amati kebiasaan yang berlaku sejak dahulu dimana seorang ibu melahirkan di rumah, diranjangnya sendiri dan juga kemudian tidur satu ranjang dengan bayinya. Telah pula disadari bahwa mendekatkan ibu dengan bayinya dan mengusahakan hubungan psikologis antara ibu dan bayi
Program rawat gabung dan manajemen laktasi sebaiknya mulai disosialisasika pada saat antenatal care sehingga ibu telah mendapat nasehat dan pengetahuan tentang keunggulan ASI, kerugian susu formula, gizi yang menjamin lancarnya produksi ASI, beberapa cara perawatan payudara dan cara menyusui yang benar. Kemudian pada saat dikamar bersalin, segera setelah lahir dimulai inisiasi menyusu dini dalam 1 jam pertama, sehingga perlu adanya kerjasama dan koordinasi antara petugas (dokter, bidan, perawat) di poliklinik, kamar bersalin dan ruang perawatan guna terlaksananya program rawat gabung ini. 
2.      Jenis Rawat Gabung
a.       Rawat gabung purna waktu (penuh/kontinu)
Adalah cara perawatan dimana ibu dan bayi dirawat bersama-sama secara terus menerus selama 24 jam atau bayi tetap berada disamping ibunya terus menerus
b.        Rawat gabung penggal waktu (tidak penuh/parsial/intermiten)
Adalah cara perawatan dimana ibu dan bayi dirawat secara terpisah pada saat tertentu.
1)      Rawat gabung hanya dalam beberapa jam seharinya, misalnya hanya siang hari saja sementara pada malam hari bayi dirawat dikaamr bayi
2)      Cara perawatan dimana bayi sewaktu-waktu ingin menyusu atau atas permintaan ibunya dapat dibawa kepada ibunya.
3)      Cara rawat bayi penggal waktu/parsial ini yang dulu bnayak dianut, sekarang tidak dibenarkan dan seharusnya tidak dipakai lagi.
3.      Tujuan Rawat Gabung
a.       Agar bayi segera mendapatkan kolostrum/ASI
b.      Memberi kesempatan kepada ibu yang baru melahirkan dan suaminya untuk mendapatkan pengalaman cara merawat bayi segera sesudah kelahiran
c.       Stimulasi mental dini dalam tubuh kembang anak
4.      Syarat/Kriteria Rawat Gabung
Tidak semua bayi atau ibu dapat segera dirawat gabung.
Adapun syarat/kriteria bayi dan ibu yang dapat dirawat gabung adalah sebagai berikut:
a.       Bayi lahir spontan, baik persentasi kepala maupun bokong
b.      Bila bayi lahir dengan tindakan, maka rawat gabung dapat dilakukan setelah bayi cukup sehat, refleks menghisap baik, tidak ada tanda infeksi
c.       Bayi yang lahir dengan seksio caesar dengan anestesi umum, rawat gabung dapat dilakukan segera setelah ibu sadar penuh. Bayi tetap disusukan meskipun ibu masih mendapatkan infus
d.      Bayi tidak asfiksia setelah 5 menit pertama (nilai apgar minimal 7)
e.       Usia kehamilan 37 minggu atau lebih
f.       Berat lahir 2000-2500 gram atau lebih
g.      Tidak terdapat tanda-tanda infeksi intrapartum
h.      Bayi dan ibu sehat
Sedangkan bayi-bayi ini yang tidak boleh dilakukan rawat gabung, adalah:
a.       Bayi yang sangat premature
b.      Bayi berat lahir kurang dari 2000-2500 gram
c.       Bayi dengan sepsis
d.      Bayi dengan gangguan nafas
e.       Bayi dengan cacat bawaan berat, misal hidrosefalus, meningokel, anensefali, atresia ani, ;abio/palato/gnatoschizis, omfalokel.
f.       Ibu dengan infeksi berat, misal sepsis
5.      Manfaat rawat gabung
a.       Manfaat terhadap ibu
1)      Manfaat ditinjau dari segi psikologis
a)      Hubungan antara ibu dan bayi lebih akrab setelah ada sentuhan fisik antara ibu dan bai setelah kelahiran
b)      Memberi kesempatan pada ibu untuk belajar merawat sendiri bayi yang baru dilahirkannya
c)      Memberikan rasa percaya diri dan tanggung jawab kepada ibu untuk merawat bayinya
2)       Manfaat ditinjau dari segi fisik
a)      Involusi uterus akan terjadi dengan baik, karena dengan menyusui akan terjadi kontraksi rahim sehinga perdarahn postpartum dapat dikurangi
b)      Dengan aktivitas merawat sendiri bayinya, berarti mempercepat mobilisasi dan kesehatan ibu akan segera pulih kembali.

b.      Manfaat terhadap bayi
1)      Manfaat ditinjau dari segi psikologis
a)      Dengan rawat gabung, sentuhan fisik ibu dan bayi segera terjadi
b)      Sentuhan antara ibu dan bayinya akan mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya
c)      Sentuhan fisik ibu dan bayi dapat memberikan stimulasi mental dini yang diperlukan bagi tumbuh kembang bayi khususnya dalam memberikan rasa aman dan kasih sayang.
2)      Manfaat ditinjau dari segi fisik
a)      Air Susu Ibu (ASI) terutama kolostrum mangandung zat-zat antibodi yang dapat melindungi bayi dari bahaya infeksi terutama diare
b)      Bayi segera mendaptkan makanan yang sesuai dengan perkembangannya
c)      Kemungkinan terkadi infeksi nosokomial (infeksi yang berasal dari rumah sakit) berkurang, karena ibunya sendiri yang mengamati segla perubahan fisik maupun perilaku bayinya. Sementara pada perawatan bayi yang terpisah, kejadian infeksi silang (nosokomial) sulit dihindari
d)     Penyakit sariawan pada bayi dapat dikurangi
e)      Bahaya aspirasi yang disebabkan susu botol dapat dikurangi
f)       Kejadian penyakit alergi terhadapt susu buatan/formula dapat dicegah







Daftar pustaka

Maryunani,Anik. 2009. Asuhan Pada Ibu Dalam Masa Nifas (Postpartum).Jakarta:Trans Info Media
PUSDIKNAKES-WHO-JHPIEGO.2003. Asuhan Kebidanan Post Partum
.Jakarta:PUSDINAKES
Rukiyah,Yeyeh,Ai,dkk.2010.Asuhan Kebidanan III (Nifas).Jakarta:Trans Info Media
Saifudin AB.2002.Buku Acuan Nasional Pelayanan Maternal dan Neonatal.Jakarta:YBPSP

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar