Rabu, 03 Oktober 2012

ASUHAN PRIMER PADA BAYI SAMPAI USIA 6 MINGGU



1.    1.   Asuhan Primer Pada Bayi 6 Minggu Pertama
Bayi yang baru lahir mendapatkan pengalaman yang sama sekali berbeda dengan yang kita alami. Mereka sepenuhnya bergantung pada orang tuanya untuk seluruh kebutuhan dasarnya. Untungnya mereka memiliki cara untuk mengkomunikasikannya dengan orang tuanya. Di 6 minggu pertama, ibu dan bayi akan belajar banyak satu sama lain. Proses “give & take” yang terjadi antara ibu dan bayi akan menciptakan ikatan yang kuat. Hubungannya dengan ibu akan menjadi landasan baginya untuk berhubungan dengan yang lainnya. Perhatikan bayi baik-baik karena bayi sangat memperhatikan ibunya dan seberapa baik ibunya memperlakukannya. Telentangkan bayi selagi tidur karena dia belum mampu mengubah posisi badannya jika dia sulit bernafas kecuali jika dokter anak anda menyarankan lain.
2.      Peran Bidan Pada Bayi Sehat
Beberapa prinsip pedekatan asuhan terhadap anak (termasuk didalamnya bayi dan balita) yang dipegang oleh bidan yaitu:
1. Anak bukanlah miniatur orang dewasa tetapi merupakan sosok individu yang unik yang mempunyai kebutuhan khusus sesuai dengan tahapan perkembangan dan pertumbuhannya.
2. Berdasarkan kepada pertumbuhan dan perkembangan anak sehingga permasalahan asuhan terhadap klien sesuai dengan tahap perkembangan anak.
3. Asuhan kesehatan yang diberikan menggunakan pendekatan sistem.
4. Selain memenuhi keutuhan fisik, juga harus memperhatikan keutuhan psikologis dan sosial.
Bayi sangat rentan terhadap penyakit, maka dari itu peran bidan pada bayi sehat adalah dengan cara memberikan ASI karena ASI mengandung kekebalan alami. Merupakan hal yang normal jika frekuensi BAB bayi yang mendapat ASI menurun saat kolostrum yang bersifat pencahar, benar-benar tidak terdapat lagi dalam ASI setelah sekitar usia 6 minggu. Seorang bayi pada usia ini dapat terus mempunyai frekuensi BAB sebanyak 5 kali per hari, kadang bahkan setiap habis disusui. Merupakan hal yang normal pula untuk bayi ASI berusia lebih dari 6 minggu hanya BAB 1 kali tiap beberapa hari. Beberapa bayi yang sehat hanya BAB seminggu sekali. Bila BAB menjadi lebih jarang, volumenya harus lebih banyak. Selama bayi bertambah berat badannya dengan baik, BAK cukup, dan terlihat senang serta puas maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari BAB yang jarang dan tidak perlu memberikan bayi pencahar, jus buah, atau “bantuan” lainya. Sebenarnya, berusaha memaksa BAB dapat berakibat bahaya pada bayi setelah bayi berusia 6 minggu, ia mungkin hanya membasahi 5-6 popok kain per hari, tetapi popok ini akan lebih basah. Seiring dengan bertumbuhnya bayi, ia dapat menghasilkan dan menahan urin lebih banyak dalam satu waktu. Untuk menilai basahnya suatu popok untuk bayi lebuh tua, tuang 8 sendok makan (120 ml) ke popok kering. Merawat mulut pada bayi 6 minggu pertama bersihkan mulut bayi dengan sikat mulut bayi atau lap basah setalah makan. (DR. Surriah, Nutrisi dan Gizi Untuk Bayi Dan Balita)
Mengidentifikasi peranan bidan pada bayi sehat
Bidan berperan dalam dalam asuhan terhadap bayi dan balita terutama dalam hal:
1)      Melakukan pengkajian/pemeriksaan pertumbuhan dan perkembangan anak, meliputi:
-          Pemeriksaan fisik
-          Pengukuran fisiologis (tanda-tanda vital)
-          Penampilan umum
-          Perkembangan psikologis
-          Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak.
2)      Penyuluhan kesehatan kepada keluarga:
-          Pemberian makanan bergizi pada bayi dan balita: pemberian makanan bayi, cara pemberian ASI pada bayi, pola pemberian makanan bayi usia 0-2 tahun, cara menyusui bayi yang baik, cara mengetahui apabila bayi telah kenyang dan cukup mendapat air susu ibu, hal-hal yang mempengaruhi produksi ASI, saat penggantian ASI dengan susu buatan, perlunya bayi mendapat makanan tambahan setelah berumur 6 bulan, makanan tambahan bayi sebagai pendamping ASI, menghentikan pemberian ASI, mengatur makanan anak usia 1-5 tahun.
-          Pemeriksaan rutin/berkala terhadap bayi dan balita, imunisasi, pencegahan kecelakaan, kesehatan gigi, peningkatan kesehatan pola tidur, bermain, peningkatan pendidikan seksual dimulai sejak balita (sejak anak mengenal identitasnya sebagai laki-laki atau perempuan). Tahap tahap penting perkembangan dalam 6 minggu pertama
3.      Bounding Attachment
a.       Definisi
Bounding adalah proses pembentukan sedangkan attachment (membangun ikatan) jadi Bounding Attachment adalah sebuah peningkatan hubungan kasih sayang dengan keterikatan batin antara orangtua dan bayi. Hal ini merupakan proses dimana sebagai hasil dari suatu interaksi terus-menerus antara bayi dan orang tua yang bersifat saling mencintai memberikan keduanya pemenuhan emosional dan saling membutuhkan.
b.      Keuntungan Bounding Attachment
Bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial.
Bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi.
c.       Hambatan Bounding Attachment
Kurangnya support sistem.
Ibu dengan resiko (ibu sakit).
Bayi dengan resiko (bayi prematur, bayi sakit, bayi dengan cacat fisik).
Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
d.      Manfaat
Dampak positif yang dapat diperoleh dari bounding attachment : bayi merasa dicintai, diperhatikan, mempercayai, menumbuhkan sikap sosial; bayi merasa aman, berani mengadakan eksplorasi
Hambatan yang terjadi dalam Bounding Attachment : kurangnya support sistem, Ibu dengan resiko, Bayi dengan resiko, Kehadiran bayi yang tidak diinginkan.
e.       Cara untuk melakukan bounding
1)      Inisiasi Dini : Setelah bayi lahir, dengan segera bayi ditempatkan diatas ibu. Ia akan merangkak dan mecari puting susu ibunya. Dengan demikian, bayi dapat melakukan refleks suckling dengan segera.
2)      Pemberian ASI eksklusif: Dengan dilakukannya pemberian ASI secara eksklusif segera setelah lahir, secara langsung bayi akan mengalami kontak kulit dengan ibunya yang menjadikan ibu merasa bangga dan diperlukan, rasa yang dibutuhkan oleh sema manusia.
3)      Rawat gabung: Rawat gabung merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan agar antara ibu dan bayi terjalin proses lekat (early infant mother bounding) akibat sentuhan badan antara ibu dan bayinya. Hal ini sangat mempengaruhi perkembangan psikologis bayi selanjutnya, karena kehangatan tubuh ibu merupakan stimulasi mental yang mutlak dibutuhkan oleh bayi. Bayi yang merasa aman dan terlindungi, merupakan dasar terbentuknya rasa percaya diri dikemudian hari. Dengan memberikan ASI eksklusif, ibu merasakan kepuasan dapat memenuhi kebutuhan nutrisi bayinya, dan tidak dapat digantikan oleh orang lain. Keadaan ini juga memperlancar produksi ASI, karena refleks let-down bersifat psikosomatis. Ibu akan merasa bangga karena dapat menyusui dan merawat bayinya sendiri dan bila ayah berkunjung akan terasa adanya satu kesatuan keluarga
4)      Kontak mata: beberapa ibu berkata begitu bayinya bisa memandang mereka, mereka merasa lebih dekat dengan bayinya. Orang tua dan bayi akan menggunakan lebih banyak waktu untuk saling memandang. Seringkali dalam posisi bertatapan. Bayi baru lahir dapat diletakkan lebih dekat untuk dapat melihat pada orang tuanya.
5)      Suara: Mendengar dan merespon suara antara orang tua dan bayinya sangat penting. Orang tua menunggu tangisan pertama bayi mereka dengan tegang. Suara tersebut membuat mereka yakin bahwa bayinya dalam keadaaan sehat. Tangis tersebut membuat mereka melakukan tindakan menghibur. Sewaktu orang tua berbicara dengan nada suara tinggi, bayi akan menjadi tenang dan berpaling kearah mereka.
6)      Aroma: Setiap anak memiliki aroma yang unik dan bayi belajar dengan cepat untuk mengenali aroma susu ibunya
7)      Entrainment: Bayi mengembangkan irama akibat kebiasaan. Bayi baru lahir bergerak-gerak sesuai dengan struktur pembicaraan orang dewasa. Mereka menggoyangkan tangan, mengangkat kepala, menendang-nendang kaki. Entrainment terjadi pada saat anak mulai bicara.
8)      Bioritme: Salah satu tugas bayi baru lahir adalah membentuk ritme personal (bioritme). Orang tua dapat membantu proses ini dengan memberi kasih sayang yang konsisten dan dengan memanfaatkan waktu saat bayi mengembangkan perilaku yang responsif.

Berhasil atau tidaknya proses bounding attachment ini sangat dipengaruhi oleh kondisi-kondisi sebagai berikut:
1)      Kesehatan emosional orang tua: Orang tua yang mengharapkan kehadiran si anak dalam kehidupannya tentu akan memberikan respon emosi yang berbeda dengan orang tua yang tidak menginginkan kelahiran bayi tersebut. Respon emosi yang positif dapat membantu tercapainya proses bounding attachment ini.
2)      Tingkat kemampuan, komunikasi dan keterampilan untuk merawat anak: dalam berkomunikasi dan keterampilan dalam merawat anak, orang tua satu dengan yang lain tentu tidak sama tergantung pada kemampuanyang dimiliki masing-masing. Semakin cakap orang tua dalam merawat bayinya maka akan semakin mudah pula bounding attachment terwujud.
3)      Dukungan sosial seperti keluarga, teman dan pasangan: dukungan dari keluarga, teman, terutama pasangan merupakan faktor yang juga penting untuk diperhatikan karena dengan adanya dukungan dari orang-orang terdekat akan memberikan suatu semangat / dorongan positif yang kuat bagi ibu untuk memberikan kasih sayang yang penuh kepada bayinya.
4)      Kedekatan orang tua ke anak: dengan metode rooming ini kedekatan antara orang tua dan anak dapat terjalin secara langsung dan menjadikan cepatnya ikatan batin terwujud diantara keduanya.
5)      Kesesuaian antara orang tua dan anak (keadaan anak, jenis kelamin): anak akan lebih mudah diterima oleh anggota keluarga yang lain ketika keadaan anak sehat/normal dan jenis kelamin sesuai dengan yang diharapkan.
4.      Rencana Asuhan
Contoh membuat Dokumentasi dengan sistem SOAP (kasus fiktif)
Subyektif : ibu mengatakan bayinya banyak menyusu, lama menyusu 2-3 jam, 8x sehari, istirahat cukup, BAB dan BAK normal. Bayi ibu pada umur 4 minggu telah di berikan imunisasi BCG.
Obyektif : keadaan mum baik, bayi sangat aktif, menangis kuat, hasil pemeriksaan tanda vital : Denyut jantung : 126x/menit, Respirasi: 44x/menit, Suhu : 36,50c, PB: 42cm, BB: 3100 gr.
Assesment : Neonatus cukup bulan usia 6 minggu

Planning
a)      Membina hubungan baik → hubungan baik terbina
b)      Memberitahukan hasil pemeriksaan saat ini bahwa keadaan anak ibu baik → ibu mengerti dan mengetahui hasil pemeriksaan
c)      Memberitahukan ibu tentang pemberian ASI eksklusif, selama minimal 6 bulan dan cara menyusui yang benar yaitu menyusui bayi dengan payudara kanan dan kiri secara bergantian → ibu mengerti dan melaksanakannya dengan baik
d)     Memberitahukan ibu tentang imunisasi selanjutnya pada saat bayi berusia 8 minggu atau 2 bulan harus di imunisasi DPT 1 +  hepatitis B2 + polio 1 → ibu mengerti dan berjanji akan melaksanakannya
e)      Memberitahukan ibu tentang cara merawat kebersihan bayi. Baik dari kebersihan badan (fisik dan kebersihan lingkungannya) → ibu telah melaksanakannya dengan baik.
f)       Mendokumentasikan hasil asuhan dalam catatan SOAP → hasil telah di dokumentasikan 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar