Selasa, 19 Juni 2012

PENGERTIAN PEMBERIAN OBAT


KATA PENGANTAR

Puji syukur kami penjatkan kehadirat Allah SWT, yang atas rahmat-Nya maka penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah KDK II, yaitu makalah tentang Medikasi .
Dalam Penulisan makalah ini kami merasa masih banyak kekurangan - kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini.
Dalam penulisan makalah ini kami menyampaikan ucapan terima kasih yang tak terhingga kepada pihak-pihak yang membantu dalam menyelesaikan makalah ini
Kami berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.


Bekasi,  Mei 2012

                                                                                                penulis


i

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
dalam program ini sangat penting dalam pemberian obat kepada pasien,yang mempelajari farmakologi agar dapat memahami tentang efek dari obat yang diharapkan sehingga mampu mengevaluasi efek pengobatan. Pada aspek obat ada beberapa istilah yang penting kita ketahui di antaranya: nama generic merupakan nama pertama dari pabrik yang sudah mendapatkan lisensi, kemudian ada nama yang memiliki arti nama dibawah lisensi salah satu publikasi yang resmi, nama kimiawi merupakan nama yang berasal dari susunan zat kimiawi seperti acetylsalicylic acid atau aspirin, kemudian nama dagang ( trade mark) merupakan nama yang keluar sesuai dengan perusahaan atau pabrik dalam menggunakan symbol seperti ecortin, buffrin, empirin, analgesic, dan lain-lain.
















1.2  Tujuan Penulisan
1.      Memberitahukan cara pengobatan dan dosis yang benar
2.      Menjelaskan standar obat
3.      Mejelaskan reaksi obat
4.      Menjelaskan dan melakukan teknik pemberian obat


1.3  Rumusan Masalah
Bagaimana cara memberikan obat dan memberikan dosis dengan benar agar tidak ada kesalahan..

1.4  Metode Penulisan
Disini kami menggunakan 2 metode yaitu education learning dan study pustaka







BAB II
ISI


2.1 Pengertian pemberian obat
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan, pengobatan, atau bahkn pencegahan terhadap berbagai gangguan yang terjadi di dalam tubuh. Dalam pelaksanaannya ,tenaga medis memiliki tanggung jawab dalam keamanan obat dan pemberian secara lsngsung ke pasien.hal ini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan pasien
2.2 Standar obat
Obat yang di gunakan sebaikny a memenuhi  berbagai  standar persyaratan obat,di antaranya  kemurnian, yaitu suatu keadaan yang dimiliki obat karena unsur keasliannya,tidak ada percampuran, dan standar potensi yang baik. Selain kemurnian, dan efektivitas. Standar-standar tersebut harus dimiliki obat agar menghasilkan efek baik obat itu sendiri.

2.3  Pemberian Dosis Obat
Dosis obat merupakan faktor penting, karena baik kekurangan atau kelebihan dosis akan menghasilkan efek yang tidak diinginkan, bahkan sering membahayakan. Yang dimaksud dosis suatu obat adalah dosis pemakaian sekali, per oral untuk orang dewasa, kalau kalau yang dimaksud bukan dosis tersebut diatas harus dengan keterangan yang jelas. Misalnya pemakaian sehari, dosis untuk anak, dosis per injeksi, dan seterusnya.
2.4 Macam – macam Dosis       
1. Dosis Maksimum ( DM ) adalah dosis / takaran maksimum / terbanyak yang dapat diberikan (berefek terapi) tanpa menimbulkan bahaya.
2. Dosis lazim ( DL ) adalah dosis yang tercantum dalam literatur merupakan dosis yang lazimnya dapat menyembuhkan. Dosis lazim dan dosis maksimum terdapat dalam FI ed III, juga Farmakope lain. Tetapi DM anak tidak terdapat dalam literatur. Maka DM untuk anak dapat dihitung dengan membandingkan kebutuhan anak terhadap dosis maksimum dewasa.
Pada kompetensi menerapkan pembuatan sediaan obat sesuai resep dokter di bawah pengawasan apotekerproses perhitungan dosis lazim menjadi bagian yang sangat penting karena semua bahan obat/ obat harus diperhitungkan Dosis Lazimnya sesuai dengan umur pasien dan dibandingkan dengan dosis obat yang digunakan pasien sesuai resep dokter. Pemakaian/ dosis obat untuk pasien harus tepat atau sesuai dengan Dosis Lazim supaya efek terapi tercapai, jika pada perhitungan dosis ternyata pemakaian obatnya kurang atau lebih dari DL maka harus ditanyakan kepada dokter pembuat resep karena ada banyak hal yang mempengaruhi dosis yang diberikan pada pasien, apabila dokter berkehendak maka resep dapat diracik, sebaliknya jika dokter menghendaki supaya pemakaiannya ditepatkan supaya efek terapi tercapai maka Apoteker/ Asisten Apoteker harus dapat melakukan perhitungan untuk melakukan penyesuaian dosis sehingga jumlah obat akan diganti oleh dokter supaya berefek terapi optimal untu pasien.
3. Dosis toksik adalah takaran obat dalam keadaan biasa yang dapat menyebabkan keracunan pada penderita.
4. Dosis Letalis adalah takaran obat yang dalam keadaan biasa dapat menyebabkan kematian pada penderita, dosis letalis terdiri dari:
a. LD 50 : takaran yang menyebabkan kematian pada 50% hewan percobaan.
b. LD 100 : takaran yang menyebabkan kematian pada 100% hewan percobaan.
2.5 Rumus-Rumus Untuk Menghitung Dosis Maksimum.
Berikut adalah rumus-rumus dosis yang dapat digunakan untuk menghitung dosis anak dan bayi
Rumus berdasarkan umur:

1. Rumus Young, untuk anak berumur kurang dari 8 th :
umurumur+12 x dosis dewasa = dosis anak
2. Rumus Dilling, untuk anak berumur lebih atau sama dengan 8 th:
umur (n)20x dosis dewasa
3. Rumus Fried, untuk bayi kurang dari 1 tahun:
umur dalam bulan150x dosis dewasa = dosis bayi
Rumus berdasarkan berat badan:
4. Rumus berdasarkan berat badan:
Rumus Clarke
        berat ( dalam kg )70 ( rata-rata dewasa dalam kg )
x dosis dewasa – dosis anak
Dan masih ada beberapa versi rumus perhitungan dosis maksimal obat.
Dosis-dosis maksimum tidak boleh dilampaui dalam petunjuk-petunjuk yang dimaksudkan untuk pengobatan, kecuali jika ada tanda seru ( ! ) dibelakang angka dari takaran yang melebihi tersebut.






2.6 Faktor –faktor yang Mempengaruhi Dosis Obat
Dosis suatu obat merupakan suatu jumlah yang “cukup tidak berlebihan” untuk menghasilkan efek terapeutik obat yang optimum pada seorang pasien tertentu.
1)      Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi dosis obat yang tepat untuk seorang pasien antara lain:
a)      UmuR
b)      Berat badan
c)      Jenis kelamin
d)     Status patologis
e)      Toleransi terhadap obat
f)       Waktu penggunaan obat
g)      Sifat bentuk sediaan
h)      Cara penggunaan
i)        Macam-macam faktor psikologis dan fisiologis.








2.7  Dosis Rangkap atau Dosis Kombinasi
Dosis Ganda = Dosis Rangkap = Dosis Kombinasi
Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat yang sama, dapat terjadi dua hal
Ø  Zat-zat yang berlainan itu tidak mempunyai kerja yang bersamaan, maka untuk tiap zat dihitung sendiri
Ø  Zat-zat yang berlainan mempunyai kerja yang bersamaan, maka dalam hal ini dimiliki dosis yang berganda
Apabila dalam resep terdapat dua atau lebih obat yang mempunyai khasiat yang sama maka dosis-dosis yang ada dihitung sebagai berikutnya. Zat-zat yang mempunyai bentuk kimia yang bersamaan, biasanya mempunyai kerja searah.

Kerugian Kombinasi Obat
a)      Pengobatan berlebihan
b)      Biaya pengobatan jadi lebih mahal.
c)       Efek samping obat meningkat
d)     Penggunaan obat menjadi kurang efektif
5. Dapat terjadi interaksi obat, potensiasi, antagonisme.
Keuntungan Kombinasi Obat
1. Meningkatkan efektifitas obat karena efek sinergisme
2. Dalam keadaan tertentu, mengurangi terjadinya resistensi.
3. Mempermudah pemberian obat sehingga menjadi praktis, tidak terlalu sering.


rumus-rumusnya
No
rumus
Perhitungan
1
berdasarkan berat badan
2
berdasarkanbody surface area / luas permukaan tubuh
3
dosis clark berdasarkan berat badan
 
 
4
rumus berdasarkan BSA
 
 
5
rumus young anak(anak 1-8thn)
 
 
6
rumus cowling anak(anak 8-12 thn)
 
 
7
rumus bastedo
 
 
8
rumus dilling(anak  > 8 thn)
 
 
9
rumus fried untuk bayi
 
**
“Akibat kalau kita minum obat itu ada dua, positif dan negatif. Nah, efek samping obat itu yang negatif. Contohnya alergi. Ya bahaya lah, apalagi kalau efek sampingnya seperti membuat detak jantung lebih cepat.” (Arie Undaya, Pegawai Swasta)
2.8  Efek samping
“Maksudnya yang suka ada di kemasan obat itu? Efek samping itu pokoknya selain ikut mengobati, obat juga menimbulkan efek lainnya. Contohnya mual,mulut kering. Kalau nggak bahaya sih nggak apa-apa. “ (Gine, Pegawai Lembaga Administrasi Negara)
“Efek  yang ditimbulkan setelah pemakaian obat, baik langsung atau nggak langsung. Contohnya ngantuk, mual. Bahaya nggaknya tergantung dosisnya.” (Andri, Mahasiswa Magister Teknik Material ITB)
“Efek samping obat itu misalnya badan jadi panas. Bahaya, bisa ketergantungan. Obat juga kan makhluk asing yang dimasukkin ke tubuh.” (Faisal, Pengajar Primagama)
“Efek samping obat itu ketergantungan, ngantuk. Bahaya? Nggak juga. Kalau efek sampingnya tidur, nggak bahaya soalnya biar tidur. Kalo yang ketergantungan ga terlalu bahaya sih tapi ntar keseringan minum obat jadi banyak bahan kimia di tubuhnya.” (Devy, Mahasiswi Matematika UNPAD)
“Efek samping obat itu misalnya mengantuk, jantung berdebar, mulut kering.  Menurut aku nggak bahaya selagi pas waktu minum obat itu nggak lagi kerja atau sesuai dengan dosis yang dianjurkan.” (Cahya, Teknisi Bengkel Mobil)
“Efek samping obat itu ngantuk. Bahaya? Tergantung kondisinya, nggak bahaya kalo orang sakit trus istirahat. Yang bahaya kalo makan obat, trus ngantuk trus lagi nyetir gitu.” (Hafni, ODP Bank Mandiri)
“Setiap efek yang tidak dikehendaki yang dapat merugikanpasien yang meminum obat tersebut. Misalnya, mual, muntah, pusing. Nggak semuanya bahaya sih, misalnya kalo obat tersebut efek sampingnya menyebabkan kantuk, balik lagi ke kitanya yang minum obat, berarti jangan minum obat dalam berkendaraan atau sedang beraktivitas karena akan mengganggu aktivitas kita.” (Deri, Staf Biro Perencanaan ITB)
“Efek samping obat itu ngantuk. Bahaya, karena kalo misalnya lagi bawa motor ngantuk kan bisa bahaya.” (Teguh,  Mahasiswa Teknik Mesin ITB)
Ngantuk. Tergantung, ngantuk kan biar bisa bikin istirahat. Tapi kalo mau pergi-pergi pake kendaraan kalo ngantuk ya bisa bahaya.” (Eni, Pembantu Rumah Tangga)





3.1   PEMBERIAN OBAT PER ORAL
Pemberian obat per oral adalah memberikan obat yang dimasukkan melalui mulut. Pemberian obat per rala adalah cara yang paling banyak diapakaia karena ini merupakan cara yang paling mujrah, aman dan nyaman bagi pasien. Pengertian lain mengenai pemberian obat per oral adalah rute pemberian yang paling umum dan paling banyak dipakai, karena ekonomis, paling nyaman dan aman. Obat dapat juga diabsorpsi melalui rongga mulut (sublingual atau bukal) seperti tablet ISDN. Berbagai bentuk obat dapat diberikan secara oral baik dalam bentuk tablet, sirup, kapsul atau serbuk. Untuk membantu absorpsi, maka pemberian obat per oral dapat disertai dengan pemberian setengah gelas air atau cairan yang lainnya.
Kelemahan dari cara pemberian obat per oral adalah aktivitasnyha yang lambat sehingga cara ini tidak dapat dipakai pada keadaan gawat. Obat yang diberikan per oral ini biasanya membutuhkan waktu 30 sampai 45 menit sebelum diabsorpsi dan efek puncaknya dicapai setelah 1 sampai dengan 1.5 jam. Ras d an bau obat yang tidak enak sering mengganggu pasien. Cara per oral tidak dapat dipakai pada pasien yang mengalami pengisapan cairan lambung serta pada pasien yang mempunyai gangguan menela.
Disamping itu ada beberapa jenis obat dapat mengganggu dan mengiritasi lambung dan dapat menyebabkan muntah (misalnya garam besi dan salisilat). Untuk mencegah masalah ini maka disiapkan bentuk-bentuk lain seperti bentuk kapsul atau tablet. Bentuk demikian akan tetap utuh di dalam lambung, tetapi setelah di dalam usus akan hancur dalam suasana netral atau basa.
Kalau obat dikemas dalam bentuk sirup, maka pemberian harus dilakukan dengan cara yang paling nyaman, khususnya untuk obat-obat yang rasanya pahit atau tidak enak. Pasien dapat diberikan minuman yang dingin sebelum sirup tersebut. Sesudah minum sirup pasien dapat diberi minum, pencuci mulut atau kembang gula.
.



3.2 PERSIAPAN PEMBERIAN OBAT PER ORAL
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1.  Kartu pesanan obat harus diperiksa secara hati-hati tentang pesanan obatnya, sebelum mengambil atau mengeluarkan obat, maka perawat harus mencocokkan kartu pesanan obat dengan label pada botol kemasan obat.
Setiap label harus dibaca tiga kali untuk meyakinkan obat yang diberikan yaitu:
a.  Pada saat botol obat diambil dari lemari obat
b.  Pada saat mencocokkan dengan kartu pesanan obat.
c.   Pada saat dikembalikan.
2.  Apabila obatnya dalam bentuk cairan, maka pada waktu menuang obatnya ketempat takaran lainnya, maka label obatnya harus jauh dari tetes obatnya pada mulut botolnya, skala (garis) tekanan harus sejajar dengan mata pada permukaan yang datar. Sebelum mengembalikan obatnya ke lemari, maka perawat harus menguap atau membersihkan mulut bibir botol, sehingga obat tidak melengket atau merusak label.
3.  Sediaan obat berupa tablet atau kapsul dikeluarkan dari botolnya pada tutupnya dan selanjutnya dituangkan kedalam mangkok obat yang dialasi dengan kertas permanen uuntuk memberikan kepada pasien. Ingat tablet dan kapsul tidak boleh dipegang.

TUJUAN PEMBERIAN OBAT PER ORAL
Untuk memudahkan dalam pemberian
1.      Proses reabsorbsi lebih lambat sehingga bila timbul efek samping dari obat tersebut dapat segera diatasi
2.      Menghindari pemberian obat yang menyebabkan nyeri
3.      Menghindari pemberian obat yang menyebabkan kerusakan kulit dan jaringan



CARA PEMBERIAN OBAT PER ORAL
PERSIAPAN ALAT
1.      Baki berisi obat
2.      Kartu atau buku berisi rencana pengobatan
3.      Pemotong obat (bila diperlukan)
4.      Martil dan lumpang penggerus (bila diperlukan)
5.      Gelas pengukur (bila diperlukan)
6.      Gelas dan air minum
7.      Sedotan
8.      Sendok
9.      Pipet.  
PROSEDUR KERJA
1.      Siapkan peralatan dan cuci tangan
2.      Kaji kemampuan klien untuk dapat minum obat per oral (menelan, mual, muntah, adanya program tahan makan atau minum, akan dilakukan pengisapan lambung dll)
3.      Periksa kembali perintah pengobatan (nama klien, nama dan dosis obat, waktu dan cara pemberian) periksa tanggal kedaluarsa obat, bila ada kerugian pada perintah pengobatan laporkan pada perawat/bidan yang berwenang atau dokter yang meminta.
4.      Ambil obat sesuai yang diperlukan (baca perintah pengobatan dan ambil obat yang diperlukan yang mana obat di ambil dilemari, rak atau lemari es)
5.       Siapkan obat-obatan yang akan diberikan. Siapkan jumlah obat yang sesuai dengan dosis yang diperlukan tanpa mengkontaminasi obat (gunakan tehnik aseptik untuk menjaga kebersihan obat). Ingat untuk jangan menyentuh obat dan cocokkan dengan order pengobatan.




a.  Tablet atau kapsul
1)  Tuangkan tablet atau kapsul ke dalam mangkuk disposibel tanpa menyentuh obat.
2)  Gunakan alat pemotong tablet bila diperlukan untuk membagi obat sesuai dengan dosis yang diperlukan.
3)  Jika klien mengalami kesulitan menelan, gerus obat menjadi bubuk dengan menggunakan martil dan lumpang penggerus, kemudian campurkan dengan menggunakan air. Cek dengan bagian farmasi sebelum menggerus obat, karena beberapa obat tidak boleh digerus sebab dapat mempengaruhi daya kerjanya.
b.  Obat dalam bentuk cair
1)  Kocok /putar obat/dibolak balik agar bercampur dengan rata sebelum dituangkan, buang obat yang telah berubah warna atau menjadi lebih keruh.
2)  Buka penutup botol dan letakkan menghadap keatas. Untuk menghindari kontaminasi pada tutup botol bagian dalam.
3)  Pegang botol obat sehingga sisa labelnya berada pada telapak tangan, dan tuangkan obat kearah menjauhi label. Mencegah obat menjadi rusak akibat tumpahan cairan obat, sehingga label tidak bisa dibaca dengan tepat.
4)  Tuang obat sejumlah yang diperlukan ke dalam mangkuk obat berskala.
5)  Sebelum menutup botol tutup usap bagian tutup botol dengan menggunakan kertas tissue. Mencegah tutup botol sulit dibuka kembali akibat cairan obat yang mengering pada tutup botol.
6)  Bila jumlah obat yang diberikan hanya sedikit, kurang dari 5 ml maka gunakan spuit steril untuk mengambilnya dari botol.
7)  Berikan obat pada waktu dan cara yang benar.

Identifikasi klien dengan tepat.
Menjelaskan mengenai tujuan dan daya kerja obat dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh klien.
Atur pada posisi duduk, jika tidak memungkinkan berikan posisi lateral. Posisi ini membantu mempermudah untuk menelan dan mencegah aspirasi.
Beri klien air yang cukup untuk menelan obat, bila sulit menelan anjurkan klien meletakkan obat di lidah bagian belakang, kemudian anjurkan minum. Posisi ini membantu untuk menelan dan mencegah aspirasi.
Catat obat yang telah diberikan meliputi nama dan dosis obat, setiap keluhan, dan tanda tangan pelaksana. Jika obat tidak dapat masuk atau dimuntahkan, catat secara jelas alasannya.
Kembalikan peralatan yang dipakai dengan tepat dan benar, buang alat-alat disposibel kemudian cuci tangan.
Lakukan evaluasi mengenai efek obat pada klien.


Teknik Pengobatan Secara Parenteral

Lima bulan yang lalu, tepatnya bulan Juli 2007 artikel suplemen mengangkat sebuah artikel mengenai teknik pengobatan via air minum atau pengobatan oral. Kesempatan kali ini kami akan menyampaikan tentang teknik pengobatan parenteral yaitu pemberian obat melalui injeksi atau suntikan. Di dunia perunggasan teknik injeksi lebih familiar dipakai untuk pemberian vaksin, terutama vaksin inaktif, sedangkan untuk pengobatan masih relatif jarang dilakukan. Kebanyakan peternak lebih memilih memberikan obat melalui air minum.
Obat injeksi diartikan sebagai sediaan steril bebas pirogen (senyawa organik yang menimbulkan demam yang berasal dari kontaminasi mikrobia). Berdasar pada definisi tersebut, maka syarat obat suntik adalah steril. Jika tidak steril maka bisa dipastikan bukan efek ampuh dari obat yang kita peroleh, melainkan penyakit ayam menjadi semakin parah. Kondisi steril tentu saja tidak hanya pada sediaan obat yang kita gunakan tetapi alat suntik yang kita gunakan juga harus dalam kondisi steril.
Sediaan obat injeksi dapat dibagi menjadi 3 jenis, yaitu larutan, suspensi dan emulsi. Bentuk sediaan obat injeksi berupa larutan yang relatif encer akan lebih cepat diabsorpsi (diserap) dalam tubuh dan menghasilkan efek terapi yang lebih cepat dibandingkan bentuk suspensi dan emulsi.
Teknik parenteral mungkin jarang digunakan, namun pada kondisi tertentu teknik pengobatan ini sangat diperlukan. Pada umumnya teknik ini dilakukan guna memperoleh kerja obat yang cepat, misalnya saat kondisi ayam parah dimana nafsu makan dan minum turun. Selain itu bisa disebabkan sifat zak aktif dari obat yang bisa rusak atau tidak efektif jika diberikan via oral (air minum, ransum).
3.3 Jenis Teknik Pengobatan Parenteral
Dalam dunia kedokteran, obat dapat disuntikkan ke dalam hampir seluruh organ atau bagian tubuh, termasuk sendi, ruang cairan sendi, tulang punggung bahkan dalam kondisi gawat dapat disuntikkan dalam jantung. Lain halnya dalam dunia perunggasan, teknik injeksi yang biasanya diaplikasikan adalah suntikan intramuskuler dan subkutan.
Lokasi penyuntikan obat yaitu intramuskuler (IM), intravena (IV) dan subkutan (SC)
*      Suntikan intramuskuler
Injeksi intramuskuler dilakukan dengan memasukkan obat ke dalam otot (daging). Obat tersebut selanjutnya akan terabsorpsi ke pembuluh darah yang terdapat pada otot. Tempat penyuntikkan sebaiknya sejauh mungkin dari syaraf-syaraf utama atau pembuluh darah utama. Selain itu, hendaknya dipilih otot dengan suplai pembuluh darah dan kontraksi (pergerakan) otot yang banyak. Pada ayam, lokasi penyuntikan intramuskuler biasanya dilakukan pada otot dada (pectoral) atau otot paha (femur).
Aplikasi ini harus dilakukan dengan hati-hati dengan memperhatikan titik tempat jarum ditusukkan dan di mana obat ditempatkan. Jika terjadi kesalahan maka bisa mengakibatkan terjadinya paralisis akibat rusaknya syaraf, abses, kista, emboli, hematom maupun terkelupasnya kulit. Produk yang diberikan secara intramuskuler antara lain Gentamin, Vet Strep atau Injeksi Vitamin B Kompleks.


Suntikan intramuskuler di bagian dada dan paha. Perhatikan kemiringan jarum suntik, sebaiknya ± 30o.

*      Suntikan subkutan
Sedikit berbeda dengan suntikan intramuskuler, lokasi penyuntikan subkutan berada di bawah permukaan kulit (di antara daging/otot dengan kulit) dan untuk ayam biasanya dipilih lokasi penyuntikan di leher bagian belakang sebelah bawah. Kulit leher ayam dicubit sehingga lebih memudahkan dalam penyuntikan. Apabila di sekitar leher ayam basah, itu menandakan bahwa obat yang disuntikkan tidak masuk sempurna ke bawah kulit.

Suntikan subkutan di leher bagian bawah. Hati-hati dengan syaraf yang terdapat di leher
Obat yang diaplikasikan dengan suntikan subkutan adalah obat yang tidak mengiritasi jaringan kulit. Setelah obat disuntikkan ke bawah kulit, obat akan berdifusi di cairan antar sel kulit, kemudian terabsorpsi ke pembuluh darah. Efek pengobatan dengan teknik ini relatif lebih lambat (efek depo atau sustained effect) jika dibandingkan dengan suntikan intramuskuler.
Volume obat yang disuntikan dengan teknik ini relatif lebih kecil daripada jumlah obat yang diberikan secara intramuskuler. Obat-obat yang bisa mengiritasi sebaiknya tidak diberikan dengan suntikan subkutan karena dapat memicu timbulnya rasa sakit, lecet atau abses dan rasa nyeri. Saat melakukan pemberian obat dengan teknik suntikan subkutan di daerah leher harus dilakukan secara hati-hati karena pada bagian ini
juga terdapat syaraf dan jika terkena dapat menyebabkan ayam tortikolis bahkan
Kelemahan dan Kelebihan Parenteral
Aplikasi pengobatan parenteral tentu saja mempunyai beberapa kelemahan, diantaranya :
*      Memerlukan ketrampilan khusus
Tidak setiap orang atau personal kandang mampu mengaplikasikan teknik pengobatan ini. Hal ini disebabkan teknik ini membutuhkan ketrampilan khusus, diantaranya mengetahui anatomi tubuh ayam maupun teknik penyuntikan yang baik.

Penyuntikan di paha bagian luar harus dilakukan secara hati-hati, karena di paha bagian dalam terdapat syaraf ischiadicus

*      Memerlukan waktu yang lebih lama
Teknik pengobatan ini bersifat individual atau dilakukan 1 x untuk masing-masing ayam. Hal ini tentu membutuhkan waktu maupun tenaga yang lebih banyak.
*      Pengaruh stres lebih besar
Tentu kita telah mengetahui dan telah merasakan sendiri bahwa pengobatan dengan suntikan akan terasa lebih sakit dibandingkan teknik pengobatan lainnya. Bagi ayam keadaan ini tentu saja akan menimbulkan efek stres yang lebih parah.

Meskipun terdapat beberapa kekurangan, namun teknik pengobatan ini tetap baik untuk diaplikasikan kepada ternak (red. ayam), diantaranya :
*      Dosis tepat
Dosis obat yang diterima atau masuk ke dalam tubuh dengan teknik pemberian secara suntikan, baik subkutan maupun intramuskuler menjadi lebih tepat. Hal tersebut tentu saja akan berpengaruh pada efektifitas pengobatan.
*      Efek pengobatan lebih cepat
Setelah disuntikkan, obat langsung terserap dalam tubuh (aliran darah) sehingga langsung bekerja membasmi bibit penyakit.
*      Selektif
Pengobatan dengan teknik injeksi hanya dilakukan untuk ternak yang sakit sehingga dari segi biaya akan menjadi lebih efisien.
*      Stabilitas obat lebih terjaga
Obat yang diberikan secara injeksi akan relatif lebih stabil, dimana pengaruh dari faktor luar, seperti sinar (matahari, lampu), kualitas air maupun ransum tidak ada. Selain itu, obat langsung masuk dalam darah sehingga pengaruh enzim di saluran pencernaan (lambung, usus) bisa di minimalkan. Hal ini tentu saja akan berpengaruh pada daya kerja obat.
*      Spesial untuk penyakit yang parah
Teknik pengobatan ini sangat cocok diaplikasikan untuk ayam yang telah terinfeksi bibit penyakit yang relatif parah yang mengakibatkan nafsu makan dan minum menurun drastis.

3.4 Faktor-Faktor Pendukung Keberhasilan Pengobatan secara Parenteral
Agar pemberian obat dapat mencapai efek yang optimal, yaitu obat mampu bekerja optimal membasmi bibit penyakit ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan yaitu :
*      Jaga sterilitas obat maupun peralatan
Obat injeksi yang diproduksi oleh pabrik telah melalui uji sterilitas oleh bagian quality control (QC) sehingga sterilitas obat telah terjamin. Namun saat pemberian, obat injeksi yang telah dibuka harus segera diberikan dan habis selama 24 jam. Selain itu, alat suntik (Alat Suntik Socorex) juga harus disterilkan terlebih dahulu (dimasak dalam air mendidih selama 30 menit) dan ganti jarum setiap 200-300 suntikan agar tetap tajam dan steril.
*      Hati-hati saat menyuntik
Pelaksanaan penyuntikan harus hati-hati untuk menghindari kesalahan
penyuntikan yang berakibat obat tidak bisa diserap secara optimal sehingga dosis yang diterima kurang sesuai. Selain itu, kesalahan penyuntikan juga bisa menyebabkan timbulnya peradangan di sekitar tempat penyuntikan, cacat maupun kematian.
*      Pastikan obat tidak keluar lagi
Setelah penyuntikan, perhatikan bekas lokasi penyuntikan. Pastikan apakah terdapat obat yang keluar. Hasil penyuntikan yang baik ditandai dengan tidak keluarnya obat dan biasanya terdapat benjolan kecil dalam otot.

1. DEFINISI
Vagina adalah saluran yang dindingnya dilapisi oleh membran mukosa dan membentang dari serviks uteri hingga valua dinding vagina normalnya berwarna merah mudah dan bebas dari rabas dan lesi. Vagina harus terasa hangat dan lembab dengan dinding yang lembut. Terkadang vagina yang terasa tegang dapat berkaitan dengan rasa takut atau jaringan parut. Wanita yang menderita infeksi jamur, memiliki rabas yang kental, putih, berbau aneh dan seperti dadik. Pemberian obat melalui vagina adalah pemberian obat yang dilakukan dengan memasukkan obat melalui vagina. Obat yang dimasukkan pada umumnya bekerja secara lokal. Obat ini tersedia dalam bentuk krim, tablet yang dapat larut dengan perlahan ataupun dapat juga dalam bentuk salep dan supositoria. Pada pemberian obat secara vaginal, pasien harus minimal selama 1 jam tidur terlentang untuk menghindari obat itu mengalir keluar. Contoh pemberian obat pada penanganan pasien seperti adanya benda asing di dalam vagina dan pemberian prostaglandin untuk induksi persalinan.

2. TUJUAN
a)      Untuk mendapatkan efek terapi obat
b)      Mengobati saluran vagina atau serviks, seperti :
Ø  Mengurangi peradangan
Ø  Mengobati infeksi pada vagina
Ø   Menghilangkan nyeri, rasa terbakar, dan ketidaknyamanan
3. INDIKASI
Ø  Pembatasan mobilitas
Ø  Adanya dehidrasi infeksi atau obstruksi persalinan
Ø  Pengaruh suhu tubuh terhadap distribusi dan absorbsi obat.
Ø   Penggunaan alat kontrasepsi

4.KONTRAINDIKTOR
Perawat tidak boleh melakukan pemeriksaan vagina pada keadaan :
a)      Menstruasi
b)      Khusus pada pasien spartus antara lain
Ø  Perdarahan
Ø  Plasenta previa
Ø  Ketuban pecah dini
Ø  Persalinan praterm

5. KELEBIHAN
·         Obat cepat bereaksi
·         Efek yang ditimbulkan bersifat lokal





6. KERUGIAN
·         Dapat membangkitkan rasa malu
·         Kesulitan dalam melakukan prosedur terhadap wanita lansia
·          Setiap rabas yang keluar memungkinkan berbau busuk

7. ALAT / BAHAN:
A.    Obat dalam tempatnya
B.     Sarung tangan
C.     Kain kasa
D.    Kertas tisu
E.     Kapas suplimat dalam tempatnya
F.      Pengalas
G.     Korentang dalam tempatnya
H.     Bantalan perineum (bila perlu)

8. PROSEDUR KERJA
A.    Cuci tangan
B.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan
C.     Gunakan sarung tangan
D.    Siapkan suplai
E.     Periksa identifikasi klien dan menanyakan nama klien
F.      Infeksi kondisi genetalia eksterna dan saluran vagina
G.    Kaji kemampuan klien menggunakan aplikator atau supositoria dan mengambil posisi saat obat dimasukkan
H.    Alur suplai di sisi tempat tidur
I.       Tutup gorden atau pintu kamar
J.        Bantu klien berbaring dalam posisi dorsal recumben
K.    Jaga abdomen dan ekstremitas bawah tetap tertutup
L.     Pastikan orifisium vagina disinari dengan baik oleh lampu kamar/lampu leher angsa (gcoseneck)
M.   Masukkan supositoria dengan tangan terbungkus sarung tangan (lihat gambar)
N.    Beri krim/sabun sesuai dengan petunjuk pada kemasan obat (lihat gambar)
O.    Lepas sarung tangan dengan menarik bagian dalam sarung tangan keluar dan buang ke dalam wadah yang tepat, cuci tangan
P.      Instruksikan klien untuk tetap berbaring terlentang selama sekurang-kurangnya 10 menit
Q.    Apabila aplkator digunakan, cuci dengan sabun dan air hangat, bilas dan simpan untuk penggunaan selanjutnya
R.     Tawarkan klien pembalut perineum ketika ia mulai bergerak
S.      Inspeksi kondisi saluran vagina dan genetalia eksterna di antara pemberian obat
T.      Catat nama obat, dosis, cara pemberian dan waktu pemberian obat pada catatan obat.

9. HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
a)      Pemberian bentuk, rute dosis waktu yang tepat
b)      Simpankanlah obat supostoria padat pada tempatnya
c)      Minimalkan rasa malu klien
d)     Kurangi dan cegah penularan infeksi
e)      Jaga kenyamanan klien
f)       Pertahankan hygiene perineum
g)      Jaga privasi kerja
h)      Hindarkan tindakan yang dapat menyebabkan pasien merasa sakit
i)        Perhatikan teknik septik dan aseptik
j)        Pemberian obat harus dalam posisi rekumben
k)      Menginformasikan kepada pasien tentang apa yang terjadi.
3.6 Pemberian Obat Anus/Rektum
Merupakan cara memberikan obat dengan memasukkan obat melalui anus atau rektum, dengan tujuan memberikan efek lokal dan sistemik. Tindakan pengobatan ini disebut pemberian obat suppositoria yang bertujuan untuk mendapatkan efek terapi obat, menjadikan lunak pada daerah feses dan merangsang buang air besar.
Contoh pemberian obat yang memiliki efek lokal seperti obat dulcolac supositoria yang berfungsi secara lokal untuk meningkatkan defekasi dan contoh efek sistemik pada obat aminofilin suppositoria dengan berfungsi mendilatasi bronkus. Pemberian obat supositoria ini diberikan tepat pada dnding rektal yang melewati sfingter ani interna. Kontra indikasi pada pasien yang mengalami pembedahan rektal.
Alat dan Bahan:
1.      Obat suppositoria dalam tempatnya
2.       Sarung tangan.
3.       Kain kasa.
4.       Vaselin/pelicin/pelumas.
5.      Kertas tisu.
Prosedur Kerja:
1.      Cuci tangan.
2.      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3.      Gunakan sarung tangan.
4.       Buka pembungkus obat dan pegang dengan kain kasa.
5.      Oleskan ujung pada obat suppositoria dengan pelicin.
6.      Regangkan glutea dengan tangan kiri, kemudian masukkan suppositoria dengan perlahan melalui anus, sfingter anal interna dan mengenai dinding rektal kurang lebih 10 cm pada orang dewasa, 5 cm pada bayi atau anak.
7.      Setelah selesai tarik jari tangan dan bersihkan daerah sekitar anal dengan tisu.
8.      Anjurkan pasien untuk tetap berbaring telentang atau miring selama kurang lebih 5 menit.
9.      Setelah selesai lepaskan sarung tangan ke dalam bengkok.
10.  Cuci tangan.
11.  Catat obat, jumlah dosis, dan cara pemberian.
3.7 Penyakit yang biasa terjadi pada rectum
Proktitis (radang lapisan rektum) DEFINISI Proktitis adalah peradangan pada lapisan rektum (mukosa rektum).  Pada proktitis ulserativa, ulkus (luka) muncul pada lapisan rektum yang meradang. Hal ini bisa mengenai rektum bagian bawah selebar 2,5-10 cm.  Beberapa kasus sudah memberikan respon terhadap pengobatan; yang lainnya menetap atau kambuh dan membutuhkan pengobatan jangka panjang.  Beberapa kasus akhirnya berkembang menjadi kolitis ulserativa.

PENYEBAB
Proktitis memiliki beberapa penyebab :
1.      Penyakit Crohn atau kolitis ulserativa
2.       Penyakit menular seksual (gonore, sifilis, infeksi Chlamydia trachomatis, herpessimpleks, infeksi sitomegalovirus), terutama pada laki-laki homoseksual.
3.       Bakteri spesifik seperti Salmonella
4.       Penggunaan antibiotik tertentu yang merusak bakteri usus normal dan memungkinkan bakteri lainnya tumbuh
5.       Terapi penyinaran pada rektum atau di sekitar rektum.
Orang-orang dengan gangguan sistem kekebalan memiliki resiko tinggi terhadap terjadinya proktitis, terutama pada infeksi yang disebabkan oleh virus herpes simpleks atau sitomegalovirus.

Ø  GEJALA
Proktitis terutama menyebabkan perdarahan yang tidak nyeri atau pengeluaran lendir dari rektum.
Jika penyebabnya gonore, herpes simpleks atau sitomegalovirus, anus dan rektum akan terasa sangat nyeri.
Ø  DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan dengan proktoskop atau sigmoidoskop dan hasil pemeriksaan dari contoh jaringan lapisan rektum.
Pemeriksaan laboratorium bisa menemukan jenis kuman, jamur atau virus yang menjadi penyebabnya.
Daerah lain dari usus juga bisa diperiksa dengan menggunakan kolonoskop atau barium enema.
Ø  PENGOBATAN
Antibiotik merupakan pengobatan terbaik untuk proktitis yang disebabkan oleh infeksi kuman spesifik.Jika proktitis disebabkan karena penggunaan antibiotik yang merusak flora normal usus, bisa digunakan metronidazole atau vancomycin untuk menghancurkan kuman yang merugikan. Bila penyebabnya adalah terapi penyinaran atau tidak diketahui, bisa diberikan kortikosteroid (misalnya hydrocortisone dan mesalamine). Keduanya dapat diberikan sebagai enema (cairan yang dimasukkan ke dalam usus/usus besar) atau sebagai suppositoria (obat yang dimasukkan melalui dubur). Kortison diberikan dalam bentuk busa yang dimasukan dengan bantuan alat khusus.Sulfasalazine atau obat serupa bisa diberikan per-oral (melalui mulut) dalam waktu bersamaan
4.1 Pemberian Obat Pada Mata
Pemberian obat pada mata dengan obat tetes mata atau salep mata digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal mata dengan mendilatasi pupil pengukuran refksi lensa dengan melemahkan otot lensa, serta penghilangan iritasi mata.
4.1.1 Persiapan alat dan bahan
1.      Obat dalam tempatnya dengan penetes steril atau berupa salep.
2.       Pipet.
3.       Pinset anatomi dalam tempatnya.
4.       Korentang dalam tempatnya.
5.       Plestier.
6.       Kain kasa.
7.      Kertas tisu.
8.       Balutan
9.       Sarung tangan.
10.  Air hangat/kapas pelembab.

ENAM PRINSIP BENAR DALAM PEMBERIAN OBAT :
1.      Benar nama pasien
2.       Benar nama obat
3.      Benar dosis obat
4.       Benar rute pemberian
5.       Benar waktu pemberian.
6.       Benar dokumentasi


4.1.4  Persiapan Pasien
1.      Beritahukan dan tunjukan pada klien atau keluaranya cara pemberian tetes mata dan salep mata yang benar.
2.      Beritahukan klien untuk melaporkan perubahan penglihatan,kabur,atau hilangnya penglihatan,kesukaran bernafas,atau kulit kemerahan
3.      Beritahukan klien untuk tidak menyimpan obat pada tempat yang dapat menahan cahaya dan jauh dari panas.
4.      Beritahukan klien untuk tidak menghentikan pemakaian obat secara mendadak tanpa terlebih dahulu mendapat persetujuan dokter yang meresepkan obat atersebut.
5.      Beritahukan klien akan perlunya pemeriksaan medis secara terus – menerus.
6.      Nasihati klien untuk tidak mengendarai kendaraan atau mengoperasikan mesin yang berbahaya apabila pandangan terganggu.

Langkah –langkah pemberian obat / prosedur kerja  apabila obat berbentuk tetes       obat
1.      Cuci tangan
2.       Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
3.      Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan.
4.      Gunakan sarung tangan.
5.      Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut matake arah   hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat.
6.      Buka mata dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di      atas tulang orbital
7.      Teteskan obatmata di atas sakus konjungtiva.
8.      Teteskan sebanyak yang diresepkan ke tengah – tengah Sakus.penetesan langsung pada kornea dapat menimbulkan rasa tidak enak atau kerusakan.Usahakan supaya penetes  tidak menyentuh lipatan mata atau bulu mata.
9.      Dengan lembut tekan duktus lakrimalis dengan bola kapas atau tissue steril 1-2 menit setelah  penetesan untuk mencegah absorpsi sistemik melalui kanalis lakrimalis.
10.  Klien harus menjaga agar mata tetap tertutup selama 1-2 menit selama penetesan untuk       meningkatkan absorpsi.

`    Langkah –langkah pemberian obat / prosedur kerja  apabila obat berbentuk salep.
a)      Cuci tangan.
b)      Jelaskan prosedur yang akan dilakukan.
c)       Atur posisi pasien dengan kepala menengadah dengan posisi perawat di samping kanan.
d)     Gunakan sarung tangan.
e)       Bersihkan daerah kelopak dan bulu mata dengan kapas lembab dari sudut mata ke Buka mataarah hidung, apabila sangat kotor basuh dengan air hangat.
f)       dengan menekan perlahan-lahan bagian bawah dengan ibu jari, jari telunjuk di  atas tulang orbita.
g)      Teteskan obatmata di atas sakus konjungtiva.
h)      Apabila obatmata jenis salep pegang aplikator salep di atas pinggir kelopak matakemudian    pencet tube sehingga obat keluar dan berikan obatpada kelopak mata bawah. (kira –  kira ¼ inci kecuali ada petunjuk lainnya) pada sakus konjungtiva. Penetesan langsung  pada kornea dapat menimbulkan rasa tidak enak atau kerusakan Setelah selesai, anjurkan pasienuntuk melihat ke bawah, secara bergantian dan berikan obatpada kelopak mata bagian atasdan biarkan pasien untuk memejamkan matadan menggerakkankelopakmata selama 2 – 3 menit.
i)        Tutupmata dengan kasa bila perlu.
j)        Beritahu klien bahwa penglihatannya akan kabur sebentar.
k)      Berikan pada waktu tidur,jika memungkinkan
l)        Cuci tangan.
m)    Catat obat, jumlah, waktu, dan tempatpemberian.

Mekanisme Kerja Obat Pada Mata
Cara memberikanobatpadamatadengan tetes mata atau salep mataobat tetes mata digunakan untuk persiapan pemeriksaan struktur internal matadengan cara mendilatasi pupil, untuk pengukuran refraksi lensa dengan cara melemahkan otot lensa, kemudian juga dapat digunakan untuk menghilangkan iritasi mata.
   Bentuk Obat mata
Bentuk Obat – obat mata adalah Guttae (Obat Tetes) dan ObatSalep mata .


Evaluasi : efek samping
Evaluasi Tindakan : Efek Samping Obat Tetes Dan Salep untuk mata adalah :
a)      Penglihatan Kabur
b)       Nyeri  Pada Mata
c)      Iritasi atau Infeksi Mata
d)     Sakit Kepala
e)      Alergi Kontak




KESIMPULAN
Obat merupakan sebuah substansi yang diberikan kepada manusia atau binatang sebagai perawatan atau pengobatan atau bisa disebut juga pencegahan adanya penyakit yang ada didalam tubuh manusia. Obat ini sendiri mempunyai pelaksanaan atau tanggung jawab keamanan obat dan pemberian langsung kepada pasien dengan cara 5B.













DAFTAR PUSTAKA
   alfaro,R (1998),application of nursing process A step by step guide, J.B. lippincot philadelphia.
   Anne Griffin perry dan patricia A potter,(1997), clinical nursing skills techniques 4 thn edition, mosby year book inc.
Hidayat, AAA dan Uliyah, M. (2006), Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan, Jakarta, Salemba Medika.
Priharjo, Robert. (1995), Teknik Dasar Pemberian Obat Bagi Perawat, Jakarta, EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar